Hampir setelah satu dekade krisis yang meluluh lantakkan perekonomian Indonesia, kini krisis datang lagi yang penyebabnya lagi-lagi dari luar Indonesia (Imported Crisis kali ya?). Sekarang episentrum krisis langsung dari Om Sam di Amerika sana yang katanya hampir 1/3 perdagangan dunia dikuasai dari sana.
DAmpaknyanya pun cukup meyakinkan, Amerika tidak sendirian merasakan krisis ini. Amerika mengajak (lebih tepatnya Menyeret) hampir semua negara di dunia (tak terkecuali Indonesia kita tercinta). Mulai dari Eropa, Korea Selatan,Jepang sampai negara Rusia yang notabene-nya masih berseteru.
Tampaknya perekonomian dunia memang rapuh dalam artian struktural dan nilainya cenderung artifisal melebihi jumlah real komoditasnya itu sendiri. Struktural disini bisa diartikan sebagai kekuatan ekonomi yang tidak seimbang dan terlalu pro pemilik modal. Bisa juga diartikan sebagai lemahnya pondasi-pondasi yang menyangga jalannya perekonomian dunia seperti comodity price, penilaian berlebihan terhadap suatu aset dan underlying aset yang digunakan untuk berbagai macam produk keuangan. Hal ini menimbulkan jumlah uang yang beredar jauh melampaui komoditas atau aset yang diperdagangkan itu sendiri.
Apakah dengan makin kompleks dan rumitnya sektor keuangan memberi kontribusi besar dalam krisis?setidaknya Amerika sudah membuktikannya dengan kredit perumahan subprime mortgage-nya. Euforia meningkatnya harga perumahan di AS pada saat itu mencapai titik puncaknya ketika pasar kelebihan penawaran yang menyebabkan jatuhnya harga rumah itu sendiri dan menyebabkan debiturnya tidak mampu lagi membyar pinjamannnya ke Bank. Perbankanyang mengelurkan surat berharga dengan underlying aset berupa rumah-rumah itu tentunya mendapatkan durian runtuh besar-besaran (durian runtuh yang menyakitkan).Hal ini menjalar ke sektor keuangan yang memanfaatkan surat berharga itu sebagai portofolio investasinya. Ibaratkan penyakit, Lembaga-lemabga keuangan baik bank investasi, asuransi dan lainnya menyuntikkan virus ke dalam tubuh mereka sendiri dan tanpa disadari virus itu melumpuhkan mereka seketika…..
Bagaimana dengan Indonesia?Walaupun beberapa ekonom dan lembaga-lembaga milik pemerintah menyatakan bahwa fundamental ekonmi indonesia cukup kuat dan pertumbuhan ekonomi akan tetap diatas 6 persen, Tetap saja pasar seolah-olah trauma dan kondisi ini diikuti dengan anjloknya IHSG ke posisi yang sangat kritis di kisaran !.100-an dari posisi tertinggi yang pernah mencapai 2.800-an. Sungguh kejatuhan yang sangat dalam bagi pasar modal Indonesia.
Pukulan berikutnya berupa melemahnya nilai tukar ke posisi yang tidak terkira yaitu 12.000-an dari semula di posisi 9.200-an. Terlepas dari kredibilitas Bank Sentral yang terus digerogoti berbagai kasus, Hal ini sungguh menggambarkan bahwa kondisi perekonomian kita sebenarnya belum terlepas dan mungkin akan merasakan dampak lanjutan yang lebih parah dari mega-krisis internasional ini. Belajar dari krisis tahun 19997/1998 bermula dari anjloknya nilai rupiah terhadap dolar. Jadi, dampak lanjutan dari krisis ini belum menunjukkan kondisi yang sebenarnya akan terjadi karena krisis yang merembet ke krisi nilai tukar ini tentunya akan berdampak pada kinerja ekspor dan harga-harga produksi domestik yang inputnya sebagian besar di impor.
Anehnya, bukannya mendorong sektor riil dengan membantu menyediakan fasilitas dana murah dalam mengembangkan usahanya BI malah memperthankan bunganya yang cukup tinggi di kisaran 9,5 persen padahal hampir di sejumlah negara-negar besar seperti Amerika, Jepang dsb menurunkan suku bunganya untuk membantu mengatasi krisis yang mereka alami.
Argumentasi BI secara garis besar ada dua yakni tingkat inflasi yang tinggi dan kekhawatiran terhadap terjdinya capital outflow yang akan berpengaruh terhadap likuidiatas yang memang sedang sangat kering di dunia internasional. tapi bukankah kondisi yang spesial harus diselesiakan dengan perlakuan spesial pula…
(to be continued…)
Nice artikel,.. Kumentator pertama nihhh