SUARA MAHASISWA, Belajar Etika Politik dari Pemilu AS
| Tuesday, 11 November 2008 | |
| PERTARUNGAN panjang perebutan posisi sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) akhirnya berakhir dengan kemenangan bersejarah Barack Obama sebagai presiden terpilih.
Presiden kulit hitam pertama yang mampu mendobrak hegemoni politik masyarakat kulit putih AS. Hebatnya pemilu presiden di sana, John McCain sebagai rival Obama dengan jujur mengakui kekalahan dan langsung memberikan ucapan selamat kepada Obama sebagai presiden terpilih dan mengajak para pendukungnya untuk membantu sang presiden dalam membangun AS. Sungguh sikap ksatria yang masih jauh dari realitas politik di Tanah Air. Pertarungan elite politik di Indonesia belum menemukan jati diri demokrasinya.Khususnya dalam pilkada akhir-akhir ini yang dalam perjalanannya banyak menimbulkan konflik antarpendukung fanatik, sengketa penghitungan suara,dan keengganan untuk mengakui kemenangan lawan mainnya dengan mengajukan upaya hukum untuk membatalkan hasil keputusan KPUD setempat. Dalam konteks pemilihan presiden di Indonesia,pelajaran penting yang dapat diambil dari pemilu di AS bagi para calon kandidat presiden adalah tujuan utama dalam pencalonan diri menjadi presiden, yaitu membangun Indonesia di segala bidang, bukan hanya merebut kekuasaan. Karena jika tujuan utamanya merebut kekuasaan semata, lalu yang diperoleh malah kekalahan, sikap yang muncul adalah ketidakpuasan yang diekspresikan dengan tidak mengakui kekalahan dan memprovokasi partai dan massa pendukungnya untuk menjadi oposisi, bukannya bahu-membahu membantu presiden yang terpilih untuk membangun negeri. Untuk mencontoh kisah sukses AS,elite politik yang mengajukan diri sebagai calon presiden harus memiliki jiwa ksatria,legawa,dan tidak memanas-manasi pendukungnya jika kalah.Sebagai pendukung salah satu calon yang maju,yang harus dikedepankan adalah bukan ikatan emosional semata,melainkan program nyata,kesepahaman ideologi dan tujuan sehingga kesetiaan tidak harus dimanifestasikan dalam bentuk dukungan yang terlalu fanatik dan menutup mata atas realitas yang terjadi sebenarnya. Semoga dalam perjalanan menuju bangsa yang demokratis nanti,rakyat Indonesia juga makin cerdas, sadar, dan realistis terhadap berbagai rayuan dan janji-janji elite politik dalam gelaran hajatan demokrasi terbesar di Indonesia,yaitu Pemilu 2009.(*) Masrukhin |